Pemesanan Jelly Gamat Gold G di Surabaya Gratis ongkir
Segera Hubungi CS Jelly Gamat Gold G Jawa Timur Kami
0813 3242 1688
081 5505 7878
0817 0377 2375
Tampilkan postingan dengan label Jantung Koroner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jantung Koroner. Tampilkan semua postingan

3 Gejala dan Tanda Utama Penyakit jantung

Posted by AI MIMIN Kamis, 21 Agustus 2014 1 komentar
Penyakit jantung terkenal dengan sebutan penyakit pembunuh nomer 1 di dunia. Sebutan ini tidak asal sembarangan disematkan pada penyakit jantung, memang sampai saat ini penyakit jantung adalah penyakit paling mematikan. Organ jantung merupakan organ paling vital yang dimiliki oleh manusia selain paru-paru dan otak. Bahkan eksekusi terpidana mati yang ditembak adalah jantungnya, ketika aliran dari jantung ke seluruh tubuh terhenti maka dapat dipastikan nyawa manusia juga akan terhenti.


Untuk memerangi penyakit jantung harus diketahui dulu apa TANDA DAN GEJALA DARI PENYAKIT JANTUNG. Dengan mengetahui tanda dari penyakit jantung, maka secara tidak langsung kita telah berupaya menghindari penyakit jantung. Ketika sewaktu-waktu melihat/ mengetahui adanya tanda dari penyakit dengan segera kita dapat membawa dan atau memeriksakan ke dokter terdekat.

3 Tanda dan Gejala Utama Penyakit Jantung

Tekanan Darah Tinggi/ Hipertensi

Tahukah anda bahwa ternyata penyakit tekanan darah tinggi merupakan tanda serta gejala penyakit jantung. Tekanan darah tinggi merupakan keadaan dimana tensi/ tekanan darah yang dipompa oleh jantung meninkat secara signifikan. Pada umumnya tekanan darah manusia normal adalah sebesar 120, jika lebih dari itu maka dinamakan penyakit darah tinggi.

Darah tinggi dapat menimbulkan beberapa penyakit lainnya, diantaranya adalah penyakit stroke, diabetes dan juga penyakit jantung. Terbukti tekanan darah tinggi merupakan tanda utama dari penyakit jantung. Fungsi jantung adalah untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan dara dipompa. Nah jika dipompa dengan tekanan yang tinggi maka pada jantung tersebut telah mengalami kerusakan. Dan hal ini dapat memicu terjadinya penyakit jantung.

Trigliresida Tinggi

Trigliresida tinggi merupakan sebuah kejadian dimana tubuh kelebihan lemak dan juga kolesterol. Telah diketahui bahwa kolesterol dibawa oleh darah dan akan diserap oleh tubuh. Dari situlah penyakit Jantung dapat ditimbulkan/ dipacu oleh trigliresida tinggi. Karena pada dasarnya yang memompa darah ke seluruh tubuh adalah Jantung, dan jika dalam darah tersebut terkandung kolesterol maupun lemak maka tugas jantung kian berat dengan adanya berbagai muatan tersebut.

Oleh karena itulah salah satu tanda utama dari penyakit Jantung adalah penyakit trigliresida tinggi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya trigliresida tinggi pada tubuh maka haruslah diperikasakan ke Rumah Sakit terdekat. Biasanya dilakukan CT Scan untuk mengetahui ada atau tidaknya sebuah penyakit di dalam tubuh seseorang. Semua penyakit akan diketahui dengan mudah melalui bantuan CT Scan. Untuk itu kami menaruh trigliresida tinggi sebagai tanda utama kedua setelah tekanan darah tinggi.

Dada Terasa Sakit

Penyakit jantung selalu menimbulkan rasa sakit pada area sekitar jantung, cerita dari penderita jantung mengatakan bahwa selalu mengalami nyeri pada bagian dada ketika penyakit jantung sedang kambuh. kambuhnya penyakit jantung ini tentu sudah mengalami positif terkena penyakit jantung. Sebenarnya penyakit jantung merupakan tanda adanya pelemahan otot-otot di sekitar jantung. Hal ini mengakibatkan jantung lemah dalam memompa dan mengakibatkan dada terasa sakit dan nyeri.

Jika sudah mengalami rasa nyeri pada dada sebelah kiri sebaiknya anda jangan beraktifitas yang berat-berat dulu. Periksakan bahwa ada atau tidaknya penyakit jantung pada diri anda, jika mengalami positif penyakit jantung maka jangan berkecil hati. Setiap penyakit pasti ada obatnya, begitupula dengan penyakit jantung ini. Pengobatan medis maupun pengobatan herbal saat ini telah banyak yang berhasil menyembuhkan penyakit jantung dengan efektif.

Perlu Diketahui,
Tanda dan gejala penyakit jantung diatas merupakan yang utama, artinya tanda-tanda penyakit jantung tersebut selalu terjadi pada penderita penyakit jantung. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya tel;ah mengidap penyakit jantung, hal ini dikarenakan oleh seseorang yang mengidap penyakit jantung tidak mengetahui tanda-tanda penyakit jantung itu sendiri. Maka dari itu, pengetahuan gejala dan tanda penyakit jantung sangat penting diketahui oleh semua orang.

Bagi anda yang mempunyai gejala dan tanda penyakit jantung diatas maka jangan khawatir, saat ini telah hadir pengobatan penyakit jantung tanpa operasi yaitu menggunakan obat herbal Jelly Gamat Gold G. Jelly Gamat Gold G adalah obat herbal untuk mengatasi penyakit jantung secara efektif, terbuat dari ekstrak teripang emas. Cobalah bagi anda yang sedang ingin sembuh dari penyakit jantung. Pemesanan kepada Bpk. Hari Pribadi Telp 0813 3034 7565. InsyaAllah obat herbal yang kami distribusikan asli menobat penyakit Jantung.

Itulah artikel gejala dan tanda utama penyakit jantung, semoga bermanfaat.

Indonesia-Obat Tradisional Semakin di Cintai

Posted by AI MIMIN Sabtu, 21 Desember 2013 0 komentar

Pendahuluan 

Bidang farmasi gamat berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Dalam sejarahnya, pendidikan tinggi farmasi di Indonesia-Surabaya dibentuk untuk menghasilkan apoteker sebagai penanggung jawab apotek, dengan pesatnya perkembangan ilmu kefarmasian maka apoteker atau dikenal pula dengan sebutan farmasis, telah dapat menempati bidang pekerjaan yang makin luas. Apotek, rumah sakit malang, lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis, laboratorium forensik, berbagai jenis industri meliputi industri obat, kosmetik-kosmeseutikal, jamu, obat herbal, fitofarmaka, nutraseutikal, health food, obat veteriner dan industri vaksin, lembaga informasi obat serta badan asuransi kesehatan adalah tempat-tempat untuk farmasis melaksanakan pengabdian profesi kefarmasian. Pelayanan obat kepada penderita melalui berbagai tahapan pekerjaan meliputi diagnosis penyakit, pemilihan, penyiapan dan penyerahan obat kepada penderita yang menunjukkan suatu interaksi antara dokter, farmasis, penderita sendiri dan khusus di rumah sakit melibatkan perawat. Dalam pelayanan kesehatan yang baik, informasi obat menjadi sangat penting terutama informasi dari farmasis, baik untuk dokter, perawat dan penderita.

Pengembangan obat 

Sejarah penggunaan obat 

Pada mulanya penggunaan obat dilakukan secara empirik dari tumbuhan, hanya berdasarkan pengalaman dan selanjutnya Paracelsus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya. Hippocrates (459-370 SM) yang dikenal dengan “bapak kedokteran” dalam praktek pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Claudius Galen (200-129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi. Selanjutnya Ibnu Sina (980-1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia, dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik. Johann Jakob Wepfer (1620-1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan :”I pondered at length, finally I resolved to clarify the matter by experiment”. Ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diuji–coba secara klinik pada manusia. Institut Farmakologi pertama didirikan pada th 1847 oleh Rudolf Buchheim (1820-1879) di Universitas Dorpat (Estonia). Selanjutnya Oswald Schiedeberg (1838-1921) bersama dengan pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam kerja obat meliputi reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas dan toksisitas selektif. Konsep tersebut juga diperkuat oleh T. Frazer (1852-1921) di Scotlandia, J. Langley (1852-1925) di Inggris dan P. Ehrlich (1854-1915) di Jerman.

Sumber obat 

Sampai akhir abad 19, obat gamat merupakan produk organik atau anorganik dari tumbuhan yang dikeringkan di malang atau segar, bahan hewan atau mineral yang aktif dalam penyembuhan penyakit tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu tinggi atau pada kondisi tertentu penderita Untuk menjamin tersedianya obat agar tidak tergantung kepada musim maka tumbuhan obat diawetkan dengan pengeringan. Contoh tumbuhan yang dikeringkan pada saat itu adalah getah Papaver somniferum (opium mentah) yang sering dikaitkan dengan obat penyebab ketergantungan dan ketagihan. Dengan mengekstraksi getah tanaman tersebut dihasilkan berbagai senyawa yaitu morfin, kodein, narkotin (noskapin), papaverin dll. yang ternyata memiliki efek yang berbeda satu sama lain walaupun dari sumber yang sama Dosis tumbuhan kering dalam pengobatan ternyata sangat bervariasi tergantung pada tempat asal tumbuhan, waktu panen, kondisi dan lama penyimpanan. Maka untuk menghindari variasi dosis, F.W.Sertuerner (1783-1841) pada th 1804 mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan sintesis secara kimia. Sejak itu berkembang obat sintetik untuk berbagai jenis penyakit.

Pengembangan obat baru 

Pengembangan bahan obat diawali dengan sintesis atau isolasi dari berbagai sumber yaitu dari tanaman (glikosida jantung untuk mengobati lemah jantung), jaringan hewan (heparin untuk mencegah pembekuan darah), kultur mikroba (penisilin G sebagai antibiotik pertama), urin manusia (choriogonadotropin) dan dengan teknik bioteknologi dihasilkan human insulin untuk menangani penyakit diabetes. Dengan mempelajari hubungan struktur obat dan aktivitasnya maka pencarian zat baru lebih terarah dan memunculkan ilmu baru yaitu kimia medisinal dan farmakologi molekular. Setelah diperoleh bahan calon obat, maka selanjutnya calon obat tersebut akan melalui serangkaian uji yang memakan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit sebelum diresmikan sebagai obat oleh Badan pemberi izin. Biaya yang diperlukan dari mulai isolasi atau sintesis senyawa kimia sampai diperoleh obat baru lebih kurang US$ 500 juta per obat. Uji yang harus ditempuh oleh calon obat adalah uji praklinik dan uji klinik. Uji praklinik merupakan persyaratan uji untuk calon obat, dari uji ini diperoleh informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada hewan utuh. Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci, marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata, hewan-hewan ini sangat berjasa bagi pengembangan obat. Hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau aman. Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi :
• Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis
• Kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenisitas)
• Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas)
• Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas)
Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan pada hewan menentukan apakah dapat diteruskan dengan uji pada manusia. Ahli farmakologi bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam pembuatan formula obat, menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat yang akan diuji pada manusia. Di samping uji pada hewan, untuk mengurangi penggunaan hewan percobaan telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contohnya uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji anti mikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi dan lain-lain untuk menggantikan uji khasiat pada hewan tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara in vitro. Uji toksisitas sampai saat ini masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode lain yang menjamin hasil yang menggambarkan toksisitas pada manusia, untuk masa yang akan datang perlu dikembangkan uji toksisitas secara in vitro. Setelah calon obat dinyatakan mempunyai kemanfaatan dan aman pada hewan percobaan maka selanjutnya diuji pada manusia (uji klinik). Uji pada manusia harus diteliti dulu kelayakannya oleh komite etik mengikuti Deklarasi Helsinki.
Uji klinik terdiri dari 4 fase yaitu :
1. Fase I , calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat yang diamati pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia. Pada fase ini ditentukan hubungan dosis dengan efek yang ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat pada manusia.
2. Fase II, calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efikasi pada penyakit yang diobati. Yang diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan efek samping rendah atau tidak toksik. Pada fase ini mulai dilakukan pengembangan dan uji stabilitas bentuk sediaan obat.
3. Fase III melibatkan kelompok besar pasien, di sini obat baru dibandingkan efek dan keamanannya terhadap obat pembanding yang sudah diketahui. Selama uji klinik banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat digunakan. Akhirnya obat baru hanya lolos 1 dari lebih kurang 10.000 senyawa yang disintesis karena risikonya lebih besar dari manfaatnya atau kemanfaatannya lebih kecil dari obat yang sudah ada. Keputusan untuk mengakui obat baru dilakukan oleh badan pengatur nasional, di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Amerika Serikat oleh FDA (Food and Drug Administration), di Kanada oleh Health Canada, di Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product Regulatory Agency), di negara Eropah lain oleh EMEA ( European Agency for the Evaluation of Medicinal Product) dan di Australia oleh TGA (Therapeutics Good Administration). Untuk dapat dinilai oleh badan tersebut, industri pengusul harus menyerahkan data dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan indikasi yang diajukan, efikasi dan keamanannya harus sudah ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul dll.) yang telah memenuhi persyaratan produk melalui kontrol kualitas. Pengembangan obat tidak terbatas pada pembuatan produk dengan zat baru, tetapi dapat juga dengan memodifikasi bentuk sediaan obat yang sudah ada atau meneliti indikasi baru sebagai tambahan dari indikasi yang sudah ada. Baik bentuk sediaan baru maupun tambahan indikasi atau perubahan dosis dalam sediaan harus didaftarkan ke Badan POM dan dinilai oleh Komisi Nasional Penilai Obat Jadi. Pengembangan ilmu teknologi farmasi dan biofarmasi melahirkan new drug delivery system terutama bentuk sediaan seperti tablet lepas lambat, sediaan liposom, tablet salut enterik, mikroenkapsulasi dll. Kemajuan dalam teknik rekombinasi DNA, kultur sel dan kultur jaringan telah memicu kemajuan dalam produksi bahan baku obat seperti produksi insulin dll. Setelah calon obat dapat dibuktikan berkhasiat sekurang-kurangnya sama dengan obat yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si pemakai maka obat baru diizinkan untuk diproduksi oleh industri sebagai legal drug dan dipasarkan dengan nama dagang tertentu serta dapat diresepkan oleh dokter.
4. Fase IV, setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran (post marketing surveillance) yang diamati pada pasien dengan berbagai kondisi, berbagai usia dan ras, studi ini dilakukan dalam jangka waktu lama untuk melihat nilai terapeutik dan pengalaman jangka panjang dalam menggunakan obat. Setelah hasil studi fase IV dievaluasi masih memungkinkan obat ditarik dari perdagangan jika membahayakan sebagai contoh cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia yang dapat merusak ginjal, Entero-vioform (kliokuinol) suatu obat antidisentri amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON disease), fenil propanol amin yang sering terdapat pada obat flu harus diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi , talidomid dinyatakan tidak aman untuk wanita hamil karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin, troglitazon suatu obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati . Obat Herbal dan Fitofar maka Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat (180 spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional) merupakan potensi pasar obat herbal dan fitofarmaka. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang nDalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya. Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan di negara maju. Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia) hingga 65% dari penduduk negara maju dan 80 % dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia. Pada th 2000 diperkirakan penjualan obat herbal di dunia mencapai US$ 60 milyar.

Gamat / Sea Cucumber

WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukkan dukungan WHO untuk back to nature yang dalam hal tertentu lebih menguntungkan. Untuk meningkatkan keselektifan pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal tanaman terhadap efek, serta lebih memudahkan dalam standardisasi bahan obat maka zat aktif diekstraksi lalu dibuat sediaan fitofarmaka atau bahkan dimurnikan sampai diperoleh zat murni Di Indonesia, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan industri obat tradisional, menurut data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan sampai th 2002 terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha industri yang terdiri dari 105 industri berskala besar dan 907 industri berskala kecil. Karena banyaknya variasi sediaan bahan alam maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan maka Badan POM mengelompokkan dalam sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan sediaan fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda yaitu untuk jamu pemakaiannya secara empirik berdasarkan pengalaman, sediaan herbal terstandar bahan bakunya harus distandardisasi dan sudah diuji farmakologi secara eksperimental sedangkan sediaan fitofarmaka sama dengan obat modern bahan bakunya harus distandardisasi dan harus melalui uji klinik. Dalam upaya peningkatan pemanfaatan bahan alam Indonesia yang terjamin keamanannya, Badan POM bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi termasuk ITB sedang meneliti tanaman obat unggulan nasional sampai ke uji klinis. Tanaman tersebut adalah salam, sambiloto, kunyit, jahe merah, jati belanda, temulawak, kulit manggis, jambu biji, cabe Jawa dan mengkudu termasuk ekstrak tripang emas/gamat. Dengan melihat jumlah tanaman di Indonesia yang berlimpah dan kuang lebih 748 species tanaman obat, baru 180 tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri. Maka peluang bagi profesi kefarmasian untuk meningkatkan peran ketersediaan herbal gamat dalam pembangunan kesehatan masih terbuka lebar. Standardisasi bahan baku dan obat jadi, pembuktian efek farmakologi dan informasi tingkat keamanan obat herbal merupakan tantangan bagi farmasis agar obat herbal semakin dapat diterima oleh masyarakat gamat malang secara luas.
Jelly Gamat Gold G sudah tersedia di kota Surabaya,malang dan sekitarnya apabila anda membutuhkan silahkan Hubungi Kami
sumber informasi :diambil dari berbagai sumber.

Popular Posts

Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya